KATA MUTIARA TENTANG HIDUP DAN RIZKI

Brand seminar motivasi yang dibawakan oleh lelaki yang sehari-hari dipanggi ustadz ini adalah “Meraih Sukses & Menyelesaikan Masalah Hidup dengan Cara Allah SWT”. Dalam seminar ini akan dikupas beberapa hal. Pertama, dari mana lahirnya hutang? Kenapa cicilan bisa macet padahal ikhtiar sudah maksimal?

Kedua, kenapa rumah tangga berantakan. Ketiga, bagaimana agar Anda bisa menghadapi ujian hidup, mulai dari hutang, cerai, ketipu dsb dan bagaimana solusinya? Keempat, kenapa marketing gagal dalam menjual produknya: sulit laku?

Kelima, apakah Anda selama ini telat shalat? Keenam, apa hubungannya tidak pernah shalat dhuha dengan rejeki yang makin berkurang. Tujuh, bagaimana supaya karyawan rajin shalat tepat waktu dan dhuha dan efeknya ke omset naik 10 kali lipat setiap bulan.

Delapan, bagaimana Anda bisa berbakti dan membahagiakan orang tua Anda sebelum mereka meninggal. Sembilan, kenapa hidup galau, stress dan tanpa arah? Terakhir, sepuluh, bagaimana supaya jadi pengusaha sukses dengan modal kecil tanpa hutang ke bank.

Demikian beberapa point penting yang disampaikan Yudi Faisal dalam setiap seminar. Hal itu juga yang saya dengar saat ia mengisi seminar di JDC. Materinya sangat menggugah jiwa. Bagi saya, Yudi telah berhasil sebagai seorang motivator kelas nasional. “Tinggal ia menunggu masuk televisi saja,” bisik saya dalam hati.

Salah satu pesan motivasi yang saya ingat saat di JDC adalah

“Kerja itu cuma selingan untuk menunggu waktu shalat.” Selama ini ternyata kita keliru soal memandang hidup. Ternyata, kerjaan itu hanyalah selingan. Tugas dan pekerjaan utama kita sesungguhnya adalah beribadah kepada Allah yang diwujudkan salah satunya dengan shalat. Mindset ini harus ditanamkan dalam pikiran dan hati kita, bila kita ingin sukses dalam hidup.

Menurut Yudi yang juga pendiri IPMI (Ikatan Pengusaha Muslim Indonesia) ini,

“Suksesmu adalah keputusanmu. Kesulitan akan menguji. Masalah akan menghampiri. Pembenci akan coba jatuhkan. Tapi, yang bisa hentikan dirimu hanyalah keputusanmu. Ya, keputusan berhenti berjuang atau terus berjuang apapun kondisinya.”

Sebab, kata Yudi, hidup itu ibarat sebuah buku. Tuhanlah yang menyediakan pena takdir dan Anda adalah penulisnya (nasib).

Lebih lanjut ia mengatakan,

“Bila tak kuasa memberi, jangan mengambil. Bila mengasihi terlalu sulit, jangan membenci. Bila tak mampu menghibur orang, jangan membuatnya sedih. Bila tak mungkin meringankan beban orang lain, jangan mempersulit. Bila tak sanggup memuji, jangan menghujat. Bila tak bisa menghargai, jangan menghina. Jangan mencari kesempurnaan. Tapi, sempurnakanlah apa yang telah ada pada kita.”

Sebuah pesan yang magic. Soal ujian, Yudi juga pernah mengatakan bahwa

kalau saat ini kita sedang ditempa, dibakar, dan dilebur dalam permasalahan, itu artinya kita sedang diarahkan pada kekuatan, keharuman, kebijakan, dan kemuliaan. Karena itu, bersabarlah atas apa yang telah menimpa kita.

Sebab, kata Yudi, sakit itu indah.

Banyak orang yang ingin sekuat baja tapi tidak mau ditempa. Banyak yang ingin seharum dupa tapi tidak mau dibakar. Banyak yang ingin secemerlang emas tapi tak mau dilebur. Banyak yang ingin jadi orang yang berguna tapi tak mau memberi.

Yudi juga berbicara soal rejeki dan hutang.

Kenapa rejeki kita mampet, hidup susah, hutang bertambah banyak, bertengkar terus, anak susah tidur dan sebagainya? Menurutnya, mungkin ada ibadah kita yang lalai. Mungkin juga kita berbuat maksiat tanpa kita sadari. “Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rejeki, maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran,”

pesannya pada saya lewat BBM.

Bagi remaja atau muda-mudi yang lagi patah hati, Yudi juga memberikan tips begini,

“Jangan tangisi seseorang yang pergi meninggalkanmu demi orang lain. Tapi belajarlah mengikhlaskan dan melupakannya agar dia tidak menjadi bayang-bayang langkahmu selanjutnya. Kebodohannya melepaskanmu adalah kekuatan untukmu melupakannya. Jangan malah membuatmu terlihat bodoh dan sengsara dengan terus-menerus mengingatnya dengan hati yang sakit.”

Terakhir, kata Yudi, hidup ini seperti pelari maraton.

Fokus saja ke garis finish yang menjadi tujuan hidup kita, jangan terlalu sering menoleh dan mengurusi pelari lain, apalagi harus mengurusi orang yang jelas tidak ikut lari.

Demikian sebagian dari pesan-pesan motivasi Ustadz Yudi Faisal, S.Ag yang menggugah jiwa. Kini, ia menjadi seorang motivator yang sukses. Jadwalnya hingga bulan Oktober 2015 sudah padat. Lihat saja ini: Tanggal 6 september di Payakumbuh Sumut, 13 September di Solo, 20 September di Tasikmalaya, 27 September di Ciamis, 4 Oktober di Semarang, 11 Oktober di Wates, 14 Oktober di Magelang, 17 Oktober di Malang dan 18 Oktober di Tulung Agung.

 

Post Author: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *